Senin, 07 April 2014

JR T100 # 5 " RISK MANGEMENT ''

Definisi Risk Management

Risk Management atau management resiko adalah suatu pendekatan terstruktur / metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman, suatu rangkaian aktifitas manusia termasuk : penilaian resiko, pengembanga strategi untuk mengelolanya dan mitigasi resiko dengan menggunakan pemberdayaan / pengelolaan sumber daya. Strategi yang dapat diambila antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek negative resiko dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tesebut.

Manajemen resiko tradisional terpokus pada resiko-resiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal ( seperti bencana alam, atau kebakaran, kematian serta tuntutan hokum. Manajemen resiko keuangan disisi lain terpokus pada resiko yang dapat dikelola dengan dengan menggunakan instrument-instrument keuangan.

Sasaran dari pelaksanaan maajemen resiko adalah untuk mengurangi resiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Disisi lain pelaksanaan risk manajement melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia khususnya, bagi entitas manajemen resiko ( manusia, staff dan organisasi )

Menentukan sumbe resiko adalah penting karena mempengaruhi cara penangananya. sumber resiko dapat diklasifiksikan sebagai resiko social, resiko fisik dan resiko ekonomi.

Biaya-biaya yang ditimbulkn karena mengaggung resiko atau ketidakpastian dapat dibagi sebagai beikut :
  1. Biaya-biaya dari kerugian yang tidak diharapkan.
  2. Biaya-biaya ketidakpasian itu sendiri.
Mengidentifikasikan Resiko

Menidentifikasikan resiko merupakan proses analisa untuk menemukan secara sistimatis dan berkesinambunan atas resiko ( kerugian yang potensial ) yang dihadapi perushaan. karenanya diperlukan checklist untuk mebedakan yang sistimatik dalam menentuakan kerugian poensial. Salah satu altenatif system pengklasifikasian kerugian dalam suau checklist adalah kerugian hak milik ( property losses ), kewajiban mngganti kerugain orang lain ( liability losses ), dan kerugian personalia ( personnel losses ). Chacklis yang dibangun sebelumnya untuk menentukan resiko dan menjelaskan jenis-jenis kerugian yang dihadapi oleh suatu perusahaan.






Salam entrepreneur

JR T100 # 4 '' BUSINESS MODEL INOVATION ''

Definisi Inovasi Model Bisnis


Inovasi model bisnis sebagai perencanaan dan perancangan cara baruberbisnis melalui perubahan, perbaikan dan penyempurnaan proses bisnis yang sudah ada baik di interal maupun berkolaborasi dengan eksternal sehingga tercipta proses kerja baru yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, untuk meningkatkan nilai tambah pemangku kepentingan atau pemilik dari usaha tersebut.





Berpijak dari definisi diatas yang arus dipahami oleh para eksekutif terkait dengan inovasi model bisnis, yaitu ;
  • Bisnis model inovasi merupakan penggabungan atau penambahan aktifitas yang teah sempurna dengan cara yang unik dasempurna juga ( novelty ways )
  • Faktor pencipta dan pengendali nila tambahnya, yaitu
  1. Aktifitas yang sempurna
  2. Penggabuangan yang unik
  3. Saling melengkapi dan memberikan nila tambah
  4. meningkatkan efesiens, efektifitas dan produktifitas
  • Inovasi model bisnis akhirnya tidak dapat ditiru dan disaingi untuk jangka waktu lama kecuali inovasi model bisnis yang lain.
Dalam sebuah model bisnis dapat dijelaskan dengan sebilan blok bangunan dasar yang memperlihatkan bagaimna perusahaan tersebut menghasilkan uang. Kesembilan blok tersebut mencangkup empat bidang utama dalam suatu bisnis yatu pelanggan, penawaran, instruktur dan kelangsuangan finansial.
Kesmbialn pokok tersebut yaitu ;
  1. Segmen pelnggan ( Customer Segments - CS ), yaitu apakah organisasi tersebut melayani satu atau bebeapa segment pelanggan.
  2. Proposisi nilai ( Value Proposition - VP ), yatu mencoba memecahkan masalah pelanggan dan memuaskan kebutuhan pelanggan atau proposisi nilai.
  3. Saluran ( channels - CH ), yaitu proposisi nilai sampai ke pelanggn melalui komunikasi, distribusi dan saluran penjualan.
  4. Hubungan pelanggan ( Customer Relationships- CR ), yaitu Hubungan pelnggan di tetpkan dan dikelola bersama masing-masing segmen pelanggan.
  5. Arus pendapatan ( Revenue Streams - RS ), yaitu arus pendapatan diambil dari proposi nila yng sukses ditawarkan keada pelanggan.
  6. Sumber Daya Utama,( Key Resaurces - KR ), yaitu suatu asset yang diperlukan untuk menawarkan dan memberikan berbagai elemen di atas.
  7. Aktifitas kunci ( Key Activities  - KA ), yaitu aktifitas utama dari organisasi tersebut untuk mendapatkan sebuah nilai.
  8. Kemitraan utama ( Key Partnership ),yaitu aktiftas yang di outsrouce dan berbagai sumber daya diperolh dari luar perusahaan.
  9. Struktur biaya ( Cost Structure - CS ) yaitu biaya yang harus dikeluarkan dikeluarkan dan menjalankan bisnis model tersebut.

Minggu, 06 April 2014

JR T100 # 3 '' RESOURCE MANAGEMENT' ''

Strategis Berbasis Sumber Daya



Yang dimksud dengan manajeman sumber daya manusia atau human resorce management ( HRM )adalah Pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa dan pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok pekerja. HRM termasuk desain dan implementasi system peencanaan, penyesuaian karyawan, pengembangan kryawan, pengelolaan karier, kompensasi karyawan dan hubungan karyawan.


Komponen-komponen dalam HRM pada konteknya adalah ;
  •  Pengusaha.
Dimana pengusahaitu adalah setiap orang yang meninventasikanmodalnya untuk memperoleh penapatan dan besarnya pendapatan itu tidak menentu tergantung pada laba prusahaan tersebut.
  • Karyawan
Karyawn merupakan kekayaan sebuah perusahaan, karena tanpa keikutsertaan mereka, aktifitas peusahaan tidak akan terjadi. Karyawan berperan aktif dalam menetapkan rencana, sitem, proses, dan tujuan yang ingin dicapai.
Karyawan adalah penjual jasa ( pikiran dan tenaganya ) dan mendapatkan kompensasi yang besarnya telah ditetapkan terlebih dahulu. Mereka wajib dan teikat untuk mengerjakan peerjaan yang diberikn dan berhak memperoleh kompensasi sesuai dengan perjanjian. Pososi karywan dalam suatu perusahaan dibedakan atas karyawan operasionl dan karyawan manajerial ( pemimpin ).
  1. Karyawan operasional adalah setiap orang yang secara langsung harus mengerjakan sendiri pekerjaannya sesuai dengan perintah atasan.
  2. Karyawan manaerial adalah setia orang yang berhak memerintah bawahannya untuk mengerjakan sebagaian pekerjaannya dan dierjakan sesuai dengan perintah. Mereka mencaai tujuanya untuk kegiatan-kegiatan ornag lain. Karyawan manajerial ini dibedakan atas menejer lini dan menejer staf.
  • Manajer lini adalah seseorang pemimpin yang mempunyai wewenang lini ( line authority ) berhak da tanggung jawab langsung merealisasi tujua perusahaan.
  • Manajer staff adala pemimpin yang mempunyai wewenang staff ( saff authority ) yang hany berhak memberikan saran dan pelayanan untuk memperlancar peneylesaian tugas-tugas menejer lini.
Yang dimaksud degan internal recruiting adalah proses penarikan kryawan yang berasal dari karyawan itu sendiri.

Eksternal recruiting adalah proses penarikan karyawan dan penyeleksian karyawan yang berasal dari laur perusahaan.

Prinip Efektuasi

Ada 5 prinsip dala teori efektuasi, diantaranya yaitu ;
  • Bird In Hand.
Bird in hand adalah ungkapan dalam lingkungan di Amerika  yang berarti tentag apa saja yang dimiliki oleh kita. Apa saja yang ada ditangan kita sebetulnya. Ini bicara tentang  hal yaitu sipa diri kita, apa yang bias kita lakukan dan siapa saja yang kita kenal.
  • Affordable Loss
Affordable Loss artinya adalah sejauh mana entrepreneur itu siap menanggung kerugian. Setiap usaha pasti ada resiko. Resiko itu beraneka ragam. Bisa resiko uang, resiko waktu, resiko tenaga da sebaginya.
  • Lemonade Princple
Lemonade Princple merupakan ungkapan dari Amerika yang maksudnya adalah ketika hidup terasa seperti lemon, lemon berarti kecut, yang rasanya kecut buatlah menjadi lemonade. Seorang entrepreneur itu harus mempunya kreatifitas, harus punya mental yang tahan uji.
  • Crazy Quilt
Crazy Quilt yaitu kumpula dari perca-perca kain yang dijahit sehingga menghasilkan seuah selimut yang indah. Maksudnya adalah kemampuan seorang entrepreneur membangun network dari pihak-pihak yang lain jadi banyk pihak seperti pecahan-pecahan perca kain ini dia kumpulakan, dia kumpulakan jadi satu hingga berguna bagi dia.
  • Pilot In The Plane
pilot in the plane makudnya adalah kita mengnggap bahwa hidup kita ini adalah sebuah pesawat dimna kita adalah pilotnya, maka kitalah yag menentukan pesawat kita ini mau kemana.


Salam Entreprenur.

JR T100 # 2 '' STRATEGY TO GROWTH ''

Dalam pembelajaran online di kelas T100 kali ini kita akan membahas mengenai ''Strategy To Growth''. Yang dimaksud dengan strategy to growth adalah strategi yang ditunjukan untuk memenangkan pangsa pasar yang lebih besar, bahkan pada pengorbakan laba jangka pendek. Empat strategi pertumbuhan yang luas adalah diversivikasi, pengembangan roduk, penetrasi pasar dan pengembangan pasar.

Untuk meraih kunci sukses dalam berbisnis kunci utamanya yaitu yang pertama semangat, yang kedua semangat dan yang ketiga terus semangat. Sebab bila sudah memiliki semangat yang tinggi maka apapun rintangan dalam menjalankan wirausaha pasti dapat dilewati.
Selain itu dengan semangat hal-hal yang sulit apapun dapat menjadi lebih mudah.

Namun, selain semangat dibutuhkan juga yang namanya kreativitas. Jadi bila kita sudah emiliki semangat ditambah memiliki sebuah kreativitas, maka peluang untuk menggapai sukses terbuka lebar.

Untuk membangkitkan semangat yaitu dengan cara bermimpilah, bercita-citalah, sehingga dengan mimpi dan cita-cita tersebut dapat menambah semangat. Setiap orang memiliki kunci sukses dalam berbisnis, tinggal kita memaknai kesuksesan itu seperti apa.

Tantangan dalam menumbuhkan usaha

Memiliki optimis ysng tinggi tentunya menjadi salah satu modal utama bagi seorang pelaku usaha. Tanpa adanya optimism dari setiap pengusahanya, bias dipastikan bila usaha tersebut tidak akan mampu bertahan lama menghadapi gempuran persaingan pasar dari para kompetitornya.
Dalam kondisi sesulit apapun, seorang pelaku usaha dituntut untuk bias selalu optimis menjalankan usahanya. Hal ini penting, sebab dengan bersikap optimis secara tidak langsung akan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang lebih tangguh, pantang menorah, dan tentunya tetap semangat menghadapi segala rintangan. Tidak seperti orang-orang yang pesimis tentunya dimana mereka cenderung mudah menorah dengan hambatan yang ada dan lebih menguntungkan perkembagan bisnisnya kepada nasib.

Untuk meyakinkan pentingnya optimism. Berikut adalah beberapa keuntungan yang bias didapatkan dengan menumbuhkan sikap optimism dalam meraih sukses bisnsi, antara lain ;
  1.  Memberikan semangat dan motivasi yang positif. Orang-orang yang optimis biasanya memiliki harapan serta impian yang cukup  besar. Sehingga tidak heran bila mereka selalu bersemangat dalam melangkah dan memiliki sebuah motivasi yang positif untuk bias meraih harapan serta tujuan yang lebih baik.
  2. Berani mengahdapi segala tantangan. Dalam menjalankan sebuah usaha tidak jarang kita menemukan tantangan serta hambatan yang sering muncul ditengah perjalanan menuju sukses. Namun dengan berbekal keyakinan serta sikap optimis yang dimiliki pelaku usaha, segala tantangan yang ada akan dihadapinya dengan tenang dan diselesaikan dengan cara yang terbaik.
  3. Memiliki focus usaha yang jelas. Setelah menentukan visi dan misi perusahaan yang dijalankan, seorang pengusaha yang optimis akan selalu berusaha focus dalam menyelesaikan pekerjannya dan mewujudkan semua harapan yang telah mereka impikan.
  4. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Pelaku usaha yang optimis biasanya lebih percaya diri dalam menjalankantugas-tugasnya. Mereka yakin dengan kemampuan yang dimiliki dan berusaha mengoptimalkannya untuk emncapai cita-cita yang mereka harapkan.
  5. Lebih kreatif dan inivatif. Seorang pengusaha yang optimis selalu memiliki berbagai cara untuk mewujudakn segala impiannya. Mereka tak sgan-segan menggunakan kreativitasnya untuk menciptakan ide baru dan berusaha mendapatkan hasil yang terbaik.





Salam Etrepreneur.

Kamis, 03 April 2014

JR T100 # 1 '' GROWTH MINDSET ''

Tugas jurnal refleksi kali ini adalah pemebelajaran di kelas T100 - UCEO, kali ini membahas mengenai Growth Mindset.

Yang dimaksud mindset adalah cara pandang tentang bakat dan kemampuan yang kita miliki yang akan mempengaruhi langkah-langkah dalam menuju kualitas diri yang kita kehendaki. Pola pikir seseorang akan menentukan cara orang melihat dunia, cara orang memandang kehidupannya, cara memeandang setiap peristiwa yang dialaminya. Terhadap satu peristiwa yang sama, bisa saja orang mengambil sikap yang amat berbeda. Menglami penderitaan bisa menjadikan seseorang terotivasi, mau bangkit, terbakar semangatnya, mengalahkan penderitaan dan menghasilkansukses luar biasa. Sebaliknya pendritaan juga bisa membuat orang putus asa serta membiarkan dirinya dihancurklan olehnya.

Pada dasarnya pola pikir ( mindset ) terbagi dalam dua pola yaitu fixed mindset atau mindse tetap dan  dan growth mindset atau mindset berkembang. Orng yang berpola pikir fixed mindset, biasanya hanya mempengaruhi diri pada bakat atau kemampuan yang sudah ada saja.
Fixed mindset mempercayai bahwa kualitas-kualitas seseorang bagaikan 'ukiran pada sebuah batu', sesuatu yang menetap tidak bisa diubah. Pemilik mindset seperti ini lebih berkonsentrasi untuk membuktikan diri dari waktu ke waktu bahwa dirinya memiliki kualitas-kualitas itu. Mereka cendrung ingin terlihat pintar ataupun cakap.

Berbeda dengan growth mindset yang meyakini bahwa kualitas-kualitas tertentu dihasilkan dari sejauh mana usaha ( effort ) yang dilakukan. dengan mindset ini setiap orang memiliki peluang untuk berubah dan berkembang mencapai kualitas-kaulitas yang diinginkan melalui dedikasi dan kerja keras. Pemilik mindset ini memiliki kecenderuangan untuk selalu belajar.
Orang yang meiliki growth mindset suka mengembangkan apa yang sudah ada, senang mencari antangan baru, mau menjelajahinya dan selalu mampu menghadapi masalah.

Ciri-ciri dari orang yang ber-growth mindset adalah suka dengan upaya, penuh dengan kreativitas. kerja keras dan anthusias. Orang dengan mindset berkembng mempunyai pemahaman, bahwa segala bakat atau talenta kecerdasan dan kapasitasyang dimiliki itu adalah sesuatu yang bukan given, tetapi bisa diperoleh melalui berbagai upaya tertentu. Mereka itu menjalani kehidupan dengan memanfaatkan peluang dan tantangan untuk berkembang mencapai kesuksesan.


Salam Entrepreneur.

Rabu, 26 Maret 2014

JR 14 # '' MENGELOLA RESIKO UNTUK RITEL ''

Bekal pemahaman terhadap konsep-konsep pengelolaan ritel modern sangat penting untuk dipahami mengingat kegagalan dalam pengelolaan akan menimbulkan resiko kerugian yang cukup besar. Sedangkan jika pelaku bisnis ritel tetap bertahan dengan pengelolaan ritel secara tradisional tidak memungkinkan untuk memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bila dihadapkan dengan modal yang cukup besar maupun terjadinya perubahan pola belanja konsumen yang mempunyai konsekuensi terhadap berubahnya kebutuhan mereka terhadap keberadaan sebuah ritel.

Pengelolaan ritel sekala besar dan kecil membutuhkan kesiapan pengelolaan dalam arti Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang memiliki pengetahuan, ketrampilan ( baik soft maupun hard skill ) dalam hal manajrial ritel modern dan sekaligus kepekaan dalam melihat peluang agar dapat memiliki kompetensi untuk bertahan dalam bisnis ritel ( continuous competitive advantage ).

Untuk itu, dipandang penting untuk pengembangan pengetahuan dan ketrampilan di bidang manajemen ritel yang akan menambah kesiapan pengelola ritel tradisional maupun ritel modern secara terintregrasi khususnya bagi kesiapan dalam mengelola bisnis ritel modern skala kecil dan menengah secara mandiri amupun apabila terjun sebagai bagian dari manajemen suatu perusahaan ritel skala menengah dan besar.

ecara sederhana resiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya penyimpangan hasil usaha dari yang diharapkan, atau kemungkinan terjadinya kerugian usaha. Didalam prakteknya resiko tersebut tidak dapat dihilangkan pelaku usaha hanya bias menghindari, menghadapi, memindahkan, atau mengurangi resiko tersebut.
menghindari berarti tidak melalkukan usaha tersebut.
Mengahadapi berarti bersedia menanggung kerugian yang mungkin akan terjaadi / dialami.
Memindahkan berarti meminta pihak lain ( asuransi misalnya ) untuk menanggung resiko yang akan terjadi, dan mengurangi resiko  berarti pelaku usaha melakukan berbagai hal untuk mengurangi / memperkecil resiko kerugian yang akan terjadi.

Setiap usaha memiliki resiko, mulai dari saat persiapan hingga usaha tersebut sudah berjalan. Pada saat persiapan banyak resiko sudah menanti, seperti ;
  • Resiko karena salah memilih jenis usaha yang akan dijalankan.
  • Resiko karena salah membuat anggaran.
  • Resiko karena salah memilih rekan.
  • Resiko karena salah memilih waktu pembukaan usaha, dll.
Bila resiko-resiko saat persiapan terjadi, maka berbagai kerugian sudah menanti, seperti sepinya pengunjung, membekunya biaya, konflik dengan rekan kerja dan sebagainya.
Disamping itu, banyak resiko juga sudah menanti saat usaha mulai berjalan, dibagian produksi beberapa resiko yang bisa terjadi adalah ;
  • Resiko langkanya bahan baku
  • Resiko kenaikan bahan baku
  • Resiko salah dan keterlambatan kedatanagan pesanan bahan baku
  • Resiko kerusakan mesin
  • Resiko listrik atau telepon mati
  • Resiko kesalahan proses produksi, dll
Berbagai macam resiko dibagian produksi tersebut dapat mengakibatkan biaya produksi menjadi naik, hingga menguirangi daya saing produk. Dampak merugikan lainya adalah keterlambatan atau terganggunya proses produksi sehingga mengecewakan konsumen dan seterusnya.

Tidak hanya dibagian produksi, setelah usaha berjalan bagian pemesaran juga dihadapakan dengan berbagai macam resiko, seperti ;
  • Resiko dari adanya persaingan
  • Resiko naik turunnya daya beli masyarakat
  • Resiko berubahnya selera konsumen ( tren yang berubah )
  • Resiko kenaikan nilai tukar
  • Resiko karena menjual secara kredit, dll.
Berbagai macam resiko pemasaran tersebut dapat menimbulkan kerugian usaha yang diakibatkan dari tidak lancarnya, macetnya cicilan penjualan kredit yang diberikan, pembajakan produk menurunya permintaan konsumen karena menurunya daya beli, usang atau kadaluarsanya model produk yang dipasarkan, dan seterusnya.
Dalam prakteknya setelah usaha berjalan tidak hanay bagain produksi dan pemasaran saja yang memiliki resiko, hamper setiap bagian dihadapakan pada berbagai macam resiko, bagian SDM juga memiliki resiko, seperti tidak hadirnya karyawan, berpindahnya karyawan kunci ke perusahaan pesaing, demo yang dilakukan karyawan, sakitnya karyawan dan sejenisnya. Secara umum resiko tersebut akan mengakibatkan terganggunya proses produksi, proses pemasaran dan proses dalam sebuah usaha lainnya.
Demikian pula bagian keuangan, juga harus memperhatika resiko adanya tindak kecurangan, kekurangan modal, kesalahan pencatatan, dll. Berbagai resiko dibagain keuangan ini akan berdampak pada berkurangnya keberuntungan, tidak sehatnya usaha, hingga terganggunya bagian lain.

Secara umum, resiko yang telah dijelaskan tersebut sebagian besar berasal dari dalam usaha itu sendiri ( kecuali beberapa resiko seperti kurs, turunya daya beli kon sumen, dll ). Namun demikian masih ada beberapa resiko dari luar perusahaan yang patut diwaspadai, seperti ;
  • Resiko karena perubahan peraturan pemerintah, seperti penataan jalur hijau, berkaitan dengan pajak usaha, maupun ijin-ijin usaha lainnya.
  • Resiko adanya bencana alam yang sering kali tidak terduga
  • Resiko perkembangan teknologi yang begitu cepat, sehingga teknologi yang ada menjadi cepat usang atau tertinggal.
  • Resiko masyarakat yang bisa muncul tiba-tiba, hanya karena sebuah isu.
  • Pemberitaan media masa, dll.
Dari penjelasan diatasa akhirnya dapat dipahami, bahwa setiap usaha memang tidak dapat terlepas dari adanya resiko usaha, dan sekali lagi yang dapat dilakukan hanya mengelola sebaik mungkin resiko tersebut, sehingga dampak kerugiannya dapat ditekan.

Selanjutnya, bagaimna cara mengelola resiko-resiko tersebut? inilah lima langkah dasar untuk mengelola resiko tersebut ;
  1. Identifikasi ( buat daftar ) setiap resiko yang bisa terjadi
  2. Lakukan analisis dan rangking atau urutan sesuai dengan besarnya dampak kerugian yang akan ditimbulaknnya.
  3. Tentukan upaya-upaya untuk mengatasinya, sesuai dengan urutan yang ada.
  4. Lakuakan upaya tersebut, sesuai pilihan scenario yang telah dibuat.
  5. Lakukan evaluasi
Resiko usaha tidak bisa dihilangkan sama sekali, yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi dan memperkecil resiko usaha tersebut.

Selasa, 18 Maret 2014

JR 13 # '' ETIKA BISNIS UNTUK RETAIL ''

Tantangan Etika Dalam Retail

Beberapa teknologi kadang berkembang lebih cepat dibanding dengan kesiapan konsumen dalam mempergunakanya. Misalnya berbelanja via internet. Kecenderungan yang ada tidak sekedar tidak mampu menggunakan namun terletak pula pada kepercayaan konsumen dalam menggunakannya.

Selain itu teknologi tinggi tidak semua retail mampu mengadopsinya, mungkin saja hanya retailer besar yang bisa ''membeli'' teknologi demikian.

Beberapa contoh teknologi dalam usaha retail
  • e-Commerce
  • Barcode-Reader
  • ATMs
  • Debit Card
  • a Self-Checkout Station
  • Delivery Service
  • Credit Card
  • etc ...
Tantangan etis yang dihadapi pengecer masuk dalam tiga kategori yang saling berhubungan, yaitu ; etika, tanggung jawab social dan perlindungan konsumen.
 
  • Etika (ethic ) berhubungan dengan prinsip moral dan niali-nilai dari perusahaan.
  • Tanggung jawab social ( social responsibility )bertalian dengan acting untuk atau agar bermanfaat bagi masyarakat.
  • Perlindungan konsumen ( consumerism protection ) memerlukan perlindungan hak konsumen.
''Perilaku Baik '' didasarkan tidak hanya dalam praktek perusahaan, tetapi juga pada harapan dan norma-norma dari masyarakat dimna bisnis tersebut berada.


Etika ~ Ethics

Dalam berhadapan dengan konstituennya ( yaitu pelanggan, masyarakat umum, karyawan, para pemasok, pesaing, dan yang lainnya ), pengecer harus mempunyai suatu moral / etika.

Ketika suatu retailer mempunyai etika, ia bertindak dengan cara yang penuh kepercayaan, adil, jujur dan hormat dengan masing-masing konstituennya.

Untuk mewujudkan hal ini, para eksekutif perusahaan harus dengan jelas mengartikulasikan ke karyawan perilaku seperti apa yang bisa di terima dan perilaku mana yang tidak dapat diterima.
seringkali, ada perilaku yang mungkin saja masyarakat menganggapnya tak pantas tetapi hokum tidak melarangnya.

Beberapa pengamat tidak etis pada beberapa aktifitas berikut ini, bahkan kadang illegal juga ;
  • Peningatan harga pada produk yang langka setelah bencana alam seperti angina topan atau gempa bumi.
  • Tidak mempunyai stock yang cukup ketika suatu penjualan diiklankan.
  • Membebankan harga yang mahal lingkungan yang berpendapatan rendah, sebab konsumen disana tidak mempunyai mobilitas transportasi untuk berbelanja keluar daerah mereka.
  • Menjual tembakau dan alcohol pada anak-anak
  • Mempunyai tenaga penjualan yang seperti pengamat / peneliti pasar ketika dikaitkan dengan telemarketing.
  • Adanya fitnah pesaing
  • Produk lama diperbaharui seperti baru.
  • Memaksa karyawan untuk mendorong perolehan high-profit kepada orang yang belanja, sekalipun mereka tidaklah baik untuknya.
  • Menjual informasi dari data base pelanggan.
Beberapa asosiasi perdagangan mensosialisasikan kode etik kepada perusahaan anggotanya. sebagai contoh The Direct Marketing Association ( DMA ) memiliki kode etik yang harus dipatuhi membernya.
Berikut ini beberapa ketentuannya :
  1. Semua penawaran harus jelas bersih, lengkap dan jujur.
  2. Peremehan atas orang atau kelompok dengan alas an ras, warna kulit, agama, asal Negara, jenis kelamin, status perkawinan, atau umur tak dapat diterima.
  3. Tidak menawarkan hal yang pantas untuk orang dewasa, kepada anak-anak. Hanya kepada orang dewasa.
  4. Semua konsep pemasaran langsung perlu mengungkapkan nama sponsor dan manfaat dari suatu kontak pemasaran. Tidak seorangpun membuat penawaran atau sosialisasi menggunakan kedok / samara dalam riset atau survey ketika tujuan yang real tersebut sangat menjual jasa atau barang-barang atau dapat menaikan dana.
  5. Hadiah undian harus diiklankan secara jelas, jujur, dan lengkap sehingga konsumen dapat mengetahui secara pasti tentang penawaran tersebut.
  6. Barnag daganagn tidak boleh dikirimkan tanpa ijin pelanggan yang menerima pertama kali.
  7. Para telemarketer harus menghapus nama pelanggan dari daftar telepon perusahaan ketika diminta oleh individu.
  8. Pemasar langsung perlu mempertahankan standarisasi yang telah ditetapkan Better Bussines Bureau dan semua hokum pemerintah harus diterapkan.
Tanggung Jawab Sosial
 
Retailer yang memperlihatkan tanggung jawab social akan melakukan aktifitas kepada masyarakat sebaik mungkin seperti halnya pada diri sendiri. tantanganya adalah menyeimbangkan tingkatan laba yang adil untuk pemegang saham, manajemen dan karyawan.
 
Beberapa format tanggung jawab social adalah memberikan cost-free bagi anggota perusahaan, seperti karyawan yang mempunyai andil dalam kegiatan peristiwa masyarakat atau juga turut membuang sisa buangan dengan cara yang sangat hati-hati.
 
Beberapa aktifitas yang membutuhkan biaya mahal, adalah penyediaan doanasi keuangan ke organisasi amal atau jasa, menjelaskan produk kepada sekolah, memberikan pinjaman kursi roda untuk orang cacat.
 
Perlindungan Konsumen

Perlindungan konsumen melibatkan aktifitas pemerintah, bisnis dan organisasi mandiri yang dirancang untuk melindungi individu dari praktek yang mengganggu hak mereka sebagai konsumen.
Retailer harus menghindari praktek bisnis yang melanggar hak ini.

Berikut ini beberapa pertimbangan yang mendasarinya :
  1. Perusahaan ketika merasa konsumen diutamakan dan tidak belanja kepada retailer yang terlihat tamak.
  2. Dikarenakan konsumen lebih selektif dan banyak mengetahui dibanding dimasa lalu, pengecer harus menawarkan hal-hal yang mengandung nilai keadilan, menyediakan informasi terperinci, dan siap menangani keluhan / pertanyaan konsumen.
  3. Konsumen menjadi sadar harga. Ketenaran retailer yang menawarkan off-price mempertinggi juga kesadaran konsumen akan harga.
  4. Retailer besar kadang-kadang dipandang sebagai acuh tak acuh kepada konsumen. Mereka mungkin menyediakan cukup perhatian secara personal untuk pembelanja atau mungkin kendali atas karyawan tidak optimal ( menghasilkan praktek lemah dan adanya ketidak-sragaman dari seluruh cabangnya )
  5. Pengguna system layanan mandiri mengalami peningkatan, hal itu dapat menyebabkan frustasi untuk beberapa pembelanja.
  6. Perkembangan teknologi baru menyebabkan ''kegoncangan'' bagi banyak konsumen. Mereka harus belajar perilaku belanja model baru ( seperti bagaimana cara belanja menggunakan ATM )
  7. Pengecer merupakan saluran distribusi yang melakukan kontak langsung dengan pelanggan, sehingga mereka sering disalahkan dan diminta untuk memecahkan permasalahan yang disebabkan oleh produsen ( seperti produk cacat dan cara pemakaian belum jelas )
Strategi Retail Menghadapi Tantangan

Marger, Diversifikasi, dan Downsizing

Marger merupakan penggabungan perusahaan eceran yang dimiliki secara terpisah.

 
 
Dengan diversifikasi, pengecer cenderung lebih efektif dalam bisnis, diluar operasi normal mereka dan mereka menambahkan barang atau kategori b arang lain yang berbeda.
 
Karena adanya diversifikasi dan marger, banyak ritel ukuranya tumbuh secara dramastis. Mereka belum semuanya berjalan lancer mrlalui penekatan ini.
Seperti disektor manufaktur, meskipun perusahaan kuat dan sedang berkembang mereka banyak yang melakukan aksi ''downsizing'' pada beberapa bagian ritel yang kinerjanya tidak memuaskan, seperti menutup toko yang tidak lagi menguntungkan.

 
 Penerapan Cost Containment, dan Value-driven
 
 Dengan pendekatan Cost Containment pengecer bekerja keras untuk menekan biaya investasi awal dan biaya usaha yang berkelanjutan.
 
Cost Containment dapat terpenuhi oleh satu atau lebih keputusan strategy-mix berikut ;
  • Standarisasi prosedur operasi
  • Standarisasi layout toko, ukuran dan strategi penawaran produk.
  • Pengguna lokasi sekunder, unit freestanding, dan lokasi lama dan menempati lokasi yang ditinggalkan oleh yang lain.
  • Penempatan toko dalam komunitas masyarakat lebih kecil dimana peraturan pembangunan lebih sedikit tegas, biaya tenaga kerja lebih rendah, serta biaya usaha dan konstruksi dikurangi.
  • Penggunaan material konstruksi murah, seperti lantai beton.
  • Penggunaan peralatan tetap yang lebih sederhana dan biaya disply yang murah
  • Pemebelian peralatan diperbaharui
  • Bergabung dengan kelompok kerja sama pembelian dan periklanan
  • Memberi harapan kepada pemasok untuk membiayai inventaris.
Strategi Penyesuaian
 
Salah satu tantangan utama bagi pedagang eceran adalah membuat orang menerima suatu retail sebagaimna retail yang diinginkan. dimana konsumen percaya bahwa pada retail tertentu merupakan suatu perjalanan belanja yang special.
 
Kunci sebuah retail adalah memandang, menggambarkan dan memposisikan diri mereka sebagai tempat berbelanja yang diinginkan.
 
Mereka harus bekerja keras untuk menjadi yang diinginkan oleh konsumen yang dengan sadar mencarinya, bukanya menempatkan konsumen untuk menjelajah sendiri kedalam.